Rekonstruksi Fikih Kelautan Berbasis Antropokosmis: Studi Kasus Reklamasi di Teluk Jakarta

Moh. Mufid

Abstract


Abstract: This article aims to reconstruct the coastal reclamation jurisprudence based on empirical facts in the reclamation project in Jakarta Bay on the basis of the anthropocosmic paradigm. Anthropocosmic in Islam is environmental ethics which holistically emphaeses on the paradigm of the relation between human and the environment. It implies that human is not only as the integral part of environment (fi), but also realizes that he himself has potential brain to manage environment responsibly. The analytical method used is inductive reasoning. Reconstruction of the reclamation jurisprudence on the basis of empirical facts (Jakarta Bay reclamation studies) can be formulated as follows: First, reclamation actors were required to undertake the environmental impact analysis (AMDAL) to ensure scientific impact of the reclamation project; Secondly, the reclamation project policy must be based on analysis of maslahat-mafsadat and as much as possible prior to public interest rather than a particular corporation; Third, the implementation of reclamation must be through licensing procedures to the authorities, in order to avoid social conflicts and policy overlaps. Thus, this anthropocosmic approach is expected to bear to the concept of marine (reclamation) jurisprudence called eco-friendly.

الملخص: أصبح خطاب الحفاظ على البيئة وإصلاحها قضية فعلية في خضم تهديد الأزمة البيئية العالمية. ولأن أزمة البيئة قد اعترفت بأنها أكبر مشكلة  في هذا القرن تؤثر على سكان العالم اليوم والأجيال المقبلة. وقد رسم الخبراء أن الأزمة البيئية سببت مجموعة متنوعة من الكوارث وتغير المناخ والاحترار العالمي، وتقلص نوعية الحياة والتهديد من تدمير الأرض في المستقبل. ولذلك، فإن الناس فى هذا العالم لا يزالون محاولين إلى إيجاد حلول لسرعة تسارع الأزمة. يقدم هذا البحث مفهوم الحفاظ على البيئة من خلال دراسة موضوعية لآيات البيئة في القرآن الكريم. وإن صياغة الحفاظ على البيئة من منظور القرآن أمر مهم، لأنه بالإضافة إلى أن القرآن مصدر للمعتقدات الأساسية والمواقف والسلوكيات للمسلمين، فضلا عن البحوث البيئية القائمة على تفسير النصوص الدينية ضرورية لتوفير التأصيل الشرعي لحفظ البيئة.

Abstrak: Artikel ini bertujuan merekonstruksi fikih reklamasi pantai berdasarkan fakta empiris dalam proyek reklamasi di Teluk Jakarta dengan basis paradigma antropokosmis. Antropokosmis dalam Islam merupakan etika lingkungan yang menitikberatkan pada paradigma relasi manusia dengan lingkungan secara holistik. Artinya, manusia selain merupakan bagian integral dari lingkungan (fi), tetapi ia juga menyadari dirinya memiliki potensi akal untuk mengelola alam secara bertanggung jawab. Metode analisis yang digunakan adalah penalaran induktif. Rekonstruksi fikih reklamasi berdasarkan fakta empiris (studi reklamasi Teluk Jakarta) dapat dirumuskan sebagai berikut: Pertama, mewajibkan pelaku reklamasi untuk melakukan uji kelayakan Amdal untuk memastikan secara ilmiah dampak dari proyek reklamasi tersebut; Kedua, kebijakan proyek reklamasi harus berdasarkan analisis maslahat-mafsadat dan sebesar-besarnya didahulukan untuk kepentingan publik bukan korporasi tertentu; Ketiga, pelaksanaan reklamasi harus melalui prosedur perizinan kepada pihak pemangku kewenangan, hal ini untuk menghindari adanya konflik sosial dan tumpang-tindihnya kebijakan. Dengan demikian, pendekatan antropokosmis ini diharapkan dapat melahirkan konsep fikih kelautan (reklamasi) yang ramah lingkungan.


Keywords


pesisir; reklamasi; fikih; antropokosmis



DOI: https://doi.org/10.21154/altahrir.v17i2.1033

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Al-Tahrir indexed by:

                     
______________________________________________________

AL-TAHRIR: JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo
Jl. Pramuka No. 156 Ronowijayan Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia

Map Coordinate: Lat-7 ° 51'46 " Long 111 ° 29'32"

View My Stats