KONSTRUKSI HADIS PENDIDIKAN SHOLAT DALAM TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Yunita Furi Aristyasari

Abstract


Abstract: Worshipful education especially prayer is one of the important aspects for the insight of noble character. Therefore, Rasulullah Saw. as a moral messenger in his hadith ordered the prayer for kids from the age of seven and allowed to hit them if they do not carry it out at the age of ten. However, prayer education is only limited to knowing and practicing without the value of being. It is indicated by the decline of morality or character of the nation, thus, the expected prayer function has not been fully achieved yet. Moreover, hitting punishment as which was permitted by the Prophet Muhammad in his hadith cannot be realized and it becomes a boomerang for educators because it is considered as violence. This study aims to review those problems by using educational philosophy approach. The result of the studies showed that the selection of prayer material is a blending of essentialism, neo-scholasticism, and pragmatism approach. The method of punishment is relevant to the approach of idealism, perennials, essentialism, and behaviorism. Both materials and methods in the hadith of prayer education are not against the philosophy of Pancasila. They are manifested of the Pancasila philosophy.

Abstrak: Pendidikan shalat adalah salah satu aspek penting bagi terwujudnya akhlak mulia sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan sistem pendidikan nasional. Karena itu, Rasulullah Saw. sebagai penyempurna akhlak dalam salah satu hadisnya memerintahkan shalat sejak usia tujuh tahun dan membolehkan memukul jika tidak melaksanakannya di usia sepuluh tahun. Namun, pendidikan shalat selama ini hanya sebatas knowing (pengetahuan) dan doing (praktik) tanpa disertai penghayatan nilai (being). Hal ini ditunjukkan dengan masih merosotnya akhlak atau karakter bangsa. Dengan demikian, fungsi shalat yang diharapkan belum tercapai sepenuhnya. Di samping itu, hukuman memukul dalam rangka mendidik yang dibolehkan oleh Rasulullah Saw. dalam hadisnya tidak bisa terealisasi dan justru menjadi boomerang bagi para pendidik karena dianggap oleh masyarakat sebagai kekerasan. Dari kajian yang dilakukan melalui pendekatan filsafat pendidikan, pemilihan materi shalat merupakan perpaduan dari filsafat esensialisme, neoskolatisisme, pragmatisme, dan esensialisme. Metode hukuman relevan dengan perpaduan filsafat idealisme, perenialisme, esensialisme, dan behaviorisme. Baik materi dan metode dalam hadis pendidikan shalat tidak bertentangan dengan filsafat Pancasila. Justru keduanya adalah wujud dari pengamalan filsafat tersebut sehingga hadis pendidikan shalat tersebut bersifat relevan dan tetap aktual.


Keywords


Worship Education; Punishment Method; Educational Philosophy

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.21154/muslimheritage.v3i2.1284

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

View My Stats


Muslim Heritage indexed by:

Google ScholarDirectory of Open Access Journal Mendeley Base (Bielefeld Academic Search Engine) Crossref Academia IPI Garuda